Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Dimensi Ruhani dalam Psikoterapi: Urgensi Komunikasi Sufistik bagi Kesehatan Jiwa

Komunikasi merupakan aspek fundamental dalam psikoterapi. Mengingat kondisi zaman yang saat ini dihadapkan pada beragam tekanan dan tuntutan kehidupan, sehingga banyak individu yang merasakan kehampaan dan kehilangan arah. Dalam hal ini, psikoterapi modern telah berupaya untuk menjawab permasalahan ini melalui pendekatan-pendekatan rasional dan empiris, namun sering kali gagal menyentuh dimensi terdalam dari jiwa , yakni dimensi ruhani. Di sinilah komunikasi sufistik memiliki relevansi yang tinggi sebagai pendekatan alternatif yang menyentuh aspek ruhani dan penyembuhan yang lebih holistik. Pada hakikatnya, komunikasi sufistik bukan sekadar bentuk dialog antara terapis dan klien , melainkan proses penyampaian makna batin yang sarat nilai spiritual, yang berakar pada konsep ihsan (beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, maka tetap meyakini bahwa Allah senantiasa hadir, melihat dan mengawasi setiap aktivitas hamba-Nya). Sedangkan dalam praktiknya, komunikasi sufistik ...

MENENUN CINTA DALAM DIRI: JALAN MAHABBAH DI TENGAH BISING DIGITAL

  “Apa yang kamu cari di luar dirimu telah berada dalam dirimu. Mengapa kamu terus mencarinya di luar?” _Jalaluddin Rumi_ ***** Di tengah hiruk-pikuk roda kehidupan yang riuh oleh arus digitalisasi, manusia justru kerap mengeluh tentang kesepian. [1] Hal ini memicu mereka untuk mencari sesuatu yang dirasa mampu mengisi kekosongan batin tersebut. Dan saat merasa telah menemukan jawabannya, mereka terpacu untuk meraih sebuah kepuasan, bahkan terkadang sampai memohon-mohon dengan segala cara demi mendapatkan apa yang mereka yakini sebagai sumber pengisi kekosongan dalam diri. Terdengar sedikit tidak etis mungkin, namun itulah fenomena yang kerap kali terjadi, entah tidak disadari, atau justru karena mereka sendiri yang mencoba menampiknya. Dan hal tersebut menjadikan manusia terjebak dalam pencarian tak berujung ­­, cinta sejati. [2] Ironisnya, banyak yang mengira kekosongan batin bisa diisi oleh cinta dari orang lain, padahal cinta sejati berawal dari menghargai dan menerima...

Mengapa Memilih Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi?

Setiap keputusan yang diambil tentu lahir dari kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu bisa dijawab hanya dengan logika. Benar, bukan? Ketika ditanya, "Mengapa memilih jurusan Tasawuf dan Psikoterapi?" —di tengah banyaknya orang yang berlomba masuk ke program studi unggulan seperti Kedokteran, Bisnis dan Manajemen, Psikologi, Hukum, dan sebagainya—hatiku berbisik pelan:  Ini (Tasawuf dan Psikoterapi) adalah  jawaban sekaligus obat, yang selama ini kaucari" .  Namun, kegelisahan itu tidak berhenti di sana. Berbagai klaim dan stigma ikut berdatangan: "Itu jurusan yang berat. Kalau tidak kuat, kamu bisa saja jadi gil4." Atau, "Kamu mau jadi dukun?"  "Tasawuf itu ngaji-nya orang tua, kamu masih muda." Bahkan, "Nanti lulus kuliah mau kerja apa? Tukang Pijat?" —dan mungkin masih banyak lagi. Lalu bagaimana aku menjawab semuanya?  Aku tersenyum dan berkata: “Jadi apa aku nantinya, itu urusan Allah SWT.”  Dan untuk saat ...