Mengapa Memilih Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi?
Setiap keputusan yang diambil tentu lahir dari kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu bisa dijawab hanya dengan logika. Benar, bukan?
Ketika ditanya, "Mengapa memilih jurusan Tasawuf dan Psikoterapi?"—di tengah banyaknya orang yang berlomba masuk ke program studi unggulan seperti Kedokteran, Bisnis dan Manajemen, Psikologi, Hukum, dan sebagainya—hatiku berbisik pelan: Ini (Tasawuf dan Psikoterapi) adalah jawaban sekaligus obat, yang selama ini kaucari".
Namun, kegelisahan itu tidak berhenti di sana. Berbagai klaim dan stigma ikut berdatangan: "Itu jurusan yang berat. Kalau tidak kuat, kamu bisa saja jadi gil4." Atau, "Kamu mau jadi dukun?" "Tasawuf itu ngaji-nya orang tua, kamu masih muda." Bahkan, "Nanti lulus kuliah mau kerja apa? Tukang Pijat?"—dan mungkin masih banyak lagi.
Lalu bagaimana aku menjawab semuanya?
Aku tersenyum dan berkata: “Jadi apa aku nantinya, itu urusan Allah SWT.” Dan untuk saat ini, bukan “akan jadi apa aku nanti” yang menjadi fokusku, melainkan “sudah bisa apa aku sekarang.” Dan bagiku, kuliah bukan semata-mata tentang menjadi apa suatu saat nanti, akan tetapi tentang belajar dan menumbuhkan nilai diri—bukan hanya sebagai bekal dunia, melainkan juga sebagai bekal yang sesungguhnya: akhirat.
Tasawuf mengenalkanku pada sunyi—bukan sebagai kekosongan, akan tetapi sebagai ruang mendengar, merasa dan melihat, betapa dalam kasih dan cinta-Nya kepada kita. Tentang luka yang tidak selalu bermakna rasa sakit yang menyiksa, akan tetapi bentuk cinta-Nya yang lembut, agar kita kembali pulang.
Sedangkan di sisi lain, jurusan ini juga mengenalkanku pada psikoterapi: sebuah ruang untuk memahami jiwa, membaca gejolak batin, dan menelusuri luka-luka yang kerap tak mampu diucapkan. Aku menyukai proses belajar tentang jiwa manusia—dan barangkali itulah nilai lebih yang kutemukan di sini: psikoterapi tidak berhenti pada pemahaman psikologis semata, tetapi juga mengajarkan bagaimana menemani, mendengar, dan merespons luka melalui teknik-teknik terapi—dan di sinilah titik temu antara tasawuf dan psikoterapi, ketika penyembuhan tidak hanya diarahkan pada pemulihan fungsi, tetapi juga pada kesadaran akan makna, kehadiran, dan hubungan manusia dengan Tuhannya.
Sejalan dengan itu, ada sebuah ungkapan yang kerap dikutip dalam tradisi tasawuf, "Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu" yang bermakna, "Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Ungkapan ini menguatkanku bahwa mengenal diri bukan semata urusan psikologis, melainkan juga sebuah perjalanan spiritual.
Mungkin aku belum sepenuhnya tahu ke mana langkah ini akan membawaku. Namun untuk saat ini, aku memilih berjalan—perlahan, sambil belajar mengenal diri, dan memercayai bahwa setiap pencarian yang jujur akan selalu dipertemukan dengan jalan pulang. Dan tulisan ini bukan manifesto, melainkan sebagai penanda awal dalam sebuah perjalanan—dari harapan yang perlahan kulangitkan.
Komentar
Posting Komentar