MENENUN CINTA DALAM DIRI: JALAN MAHABBAH DI TENGAH BISING DIGITAL
“Apa
yang kamu cari di luar dirimu telah berada dalam dirimu. Mengapa kamu terus
mencarinya di luar?”
_Jalaluddin
Rumi_
*****
Di
tengah hiruk-pikuk roda kehidupan yang riuh oleh arus digitalisasi, manusia
justru kerap mengeluh tentang kesepian.[1] Hal ini memicu mereka
untuk mencari sesuatu yang dirasa mampu mengisi kekosongan batin tersebut. Dan
saat merasa telah menemukan jawabannya, mereka terpacu untuk meraih sebuah kepuasan,
bahkan terkadang sampai memohon-mohon dengan segala cara demi mendapatkan apa
yang mereka yakini sebagai sumber pengisi kekosongan dalam diri. Terdengar
sedikit tidak etis mungkin, namun itulah fenomena yang kerap kali terjadi,
entah tidak disadari, atau justru karena mereka sendiri yang mencoba menampiknya.
Dan hal tersebut menjadikan manusia terjebak dalam pencarian tak berujung, cinta sejati.[2]
Dan
acap kali, kita terjebak dalam definisi yang sempit, yakni sebatas penghargaan
terhadap diri sendiri yang mengutamakan kebebasan individu dan kepuasan
pribadi.[5] Akibatnya, muncul persepsi
bahwa mencintai diri sendiri hanyalah bentuk dari narsisme atau keegoisan. Lebih
parahnya lagi, mereka yang menghindari label tersebut sering kali memilih untuk
mengorbankan kebutuhan diri demi menjaga citra baik di hadapan orang lain,
bahkan merasa ragu untuk bersikap tegas karena takut disalahpahami.
Menurut
pandangan Erich Fromm, mencintai diri sendiri bukanlah sekadar soal memanjakan
diri atau egoisme, melainkan bentuk penghargaan yang mendalam terhadap diri
sendiri. Dimana hal ini merupakan fondasi bagi kemampuan untuk mencintai orang
lain.[6] Ia berpendapat bahwa
mencintai diri sendiri sejatinya adalah bagian integral dari cinta sejati itu
sendiri. Menurut American Psychological Association, mencintai diri sendiri merupakan
sikap menghargai kesejahteraan dan kepuasan diri sendiri.[7] Sedangkan menurut Brain
and Behavior Research Foundation, mencintai diri sendiri didefinisikan sebagai
suatu penghargaan terhadap diri sendiri yang muncul dari tindakan-tindakan yang
mendorong perkembangan fisik, psikologis, dan spiritual.[8] Secara sederhana, mencintai
diri sendiri dapat di artikan sebagai bentuk penghargaan, penerimaan, dan kasih
sayang terhadap diri sendiri, secara utuh—tanpa syarat.
Namun,
meski kita telah mencoba dan berusaha sebaik mungkin untuk mencintai diri
kita apa adanya—tanpa syarat, terkadang masih saja, kita rasakan sebuah kekosongan
yang mengganjal—sesuatu yang lebih dalam yang kita cari—yang tak kunjung juga kita
ketahui apa itu. Dan tanpa kita sadari, hal inilah yang menjadi pemicu otak
kita untuk berasumsi bahwasanya, kita itu tetap membutuhkan yang namanya sebuah
pengakuan, perhatian, atau pujian dari orang lain untuk memenuhi kekosongan dan
kehampaan tersebut.[9]
Dan, ketika kita hanya bergantung pada pengakuan eksternal ini—untuk merasa
bahwa sebenarnya kita itu berharga, maka disinilah kita telah lupa,
bahwa hakikatnya, nilai sejati dari diri kita itu bukan ditentukan oleh penilaian
orang lain, melainkan oleh cara kita melihat diri sendiri. Dan dititik ini, akan
muncul pertanyaan dalam benak kita, lalu apa sebenarnya yang kita butuhkan
untuk mencintai diri kita sendiri? Untuk mengisi kekosongan yang hampa itu?
Dalam
hal ini, tasawuf hadir untuk memberikan penawar bagi kekosongan dan kehampaan
yang kita alami tersebut. Di dalam ajaran tasawuf, kekosongan dan kehampaan
yang dialami manusia sering kali di kaitkan dengan jauhnya seseorang dari
hakikat diri dan hakikat penciptanya, Allah Swt. Syekh Abdul Qadir al-Jailani
menjelaskan dalam kitabnya, Futuh al-Ghaib bahwasanya kehampaan batin itu menandakan
jika seseorang terlalu jauh dari Allah
Swt. Baginya, manusia yang mengabaikan hubungan dengan Allah Swt. akan senantiasa
merasa hampa, meskipun memiliki segala sesuatu di dunia.[10] Dan untuk mengatasi
kehampaan yang mengganjal dalam diri kita, para ulama’ sufi telah meresepkan
berbagai macam obat penawar, salah satunya adalah dengan melalui konsep mahabbah.
Di
tengah bisingnya zaman digital, ketika perhatian tercerai-berai oleh notifikasi
dan tuntutan eksistensi, mahabbah hadir sebagai jalan sunyi yang menuntun kita
kembali pada ruang terdalam diri. Menurut
Imam al-Ghazali, mahabbah atau kecintaan kepada
Allah Swt. dan rasul-Nya adalah wajib. Hal ini ditetapkan berdasarkan
dalil-dalil pasti.[11] Munculnya mahabbah ini
diinspirasi oleh petunjuk-petunjuk al-Qur’an, antara lain QS al-Ma’idah: 54 yang
artinya “Wahai orang-orang yang
beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya,
yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap
orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan
orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang
Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan
QS Ali
Imran: 30. yang artinya “(Ingatlah)
pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah
dikerjakannya dihadirkan, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia
kerjakan. Dia berharap seandainya ada jarak yang jauh antara dia dan hari itu.
Allah memperingatkan kamu akan (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap
hamba-hamba-Nya” kedua ayat ini menerangkan bahwa kecintaan
kepada Allah Swt. adalah
tujuan yang tertinggi
dari maqamat yang dilalui oleh para sufi. Al-Kalabazi dalam karya yang
berjudul at-Ta'arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf, mahabbah dibagi menjadi dua jenis, yaitu cinta
yang hanya diakui secara verbal, dan cinta yang dihayati dan diresapi dalam
hati dan mengalir dari lubuk hati. Cinta yang pertama dimiliki oleh setiap individu,
sedangkan cinta yang kedua hanya ditujukan kepada Allah Swt. Cinta seperti inilah
yang dijalankan oleh para sufi.[12]
Menurut
Margaret Smith, Rabi`ah dianggap sebagai sosok pertama yang mengungkapkan
ajaran cinta tanpa pamrih
kepada Allah Swt. dalam syair-syairnya,
Robi’ah menyatakan dua macam pembagian cinta, sebagai puncak perjalanan spiritualnya dan dinilai
telah mencapai tingkat
tertinggi dalam cinta. Pembagian
cinta tersebut, tertuang dalam lirik syairnya: “Aku mencintai-Mu dengan
dua cinta.Cinta yang
timbul dari kerinduan hatiku dan
cinta dari anugrah-Mu. Adapun
cinta dari kerinduanku Menenggelamkan hati
berzikir pada-Mu daripada
selain Kamu. Adapun
cinta yang dari anugrah-Mu
Adalah anugrah-Mu membukakan
tabir sehingga aku melihat wajah-Mu Tidak ada puji untuk ini
dan untuk itu bagiku Akan tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk
itu” (eit, refrens no. 8)
Di tengah bisingnya zaman saat ini, mahabbah
dapat menjadi jalan yang akan mengantarkan kita pada cinta sejati, cinta pada
sang maha cinta yang juga membawa kita pada pengenalan hakikat mencintai diri
sendiri. Dalam tasawuf, mencintai diri sendiri dimaknai sebagai sebuah wujud
pengakuan bahwa diri kita adalah makhluk yang diciptaan oleh Allah Swt. dengan
penuh cinta dan kasih.[13] Sehingga dari perspektif
ini dapat kita pahami bahwa, baik dari sisi psikologi maupun tasawuf,
menekankan bahwa mencintai diri sendiri bukan hanya tentang menerima kekurangan
dan kelebihan, tetapi tentang memupuk kesadaran yang mendalam akan hakikat diri
kita sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Dan ketika seseorang telah memusatkan
perhatiannya pada Allah Swt, maka ia akan merasakan bahwa dirinya berharga
bukan karena penilaian orang lain, melainkan karena ia adalah bagian dari cinta
dan ciptaan-Nya. Sebagai langkah awal dari proses ini, kita perlu memahami
bahwa cinta sejati tidak hanya muncul dari luar, tetapi lahir dari dalam diri
kita sendiri, yaitu dari kesadaran bahwa cinta tersebut sejatinya bersumber
dari Allah Swt. yang telah menciptakan kita dengan penuh kasih dan cinta.
[1] “Self-Love
di Era Digital: Bagaimana Media Sosial Mempengaruhi Persona Diri,” Kumparan,
4 Januari 2024, diakses 13 Mei 2025,
https://kumparan.com/audri-aviarizky/self-love-di-era-digital-bagaimana-media-sosial-mempengaruhi-persona-diri-24HWqRPfLoX.
[2] Reni
Nur, “Self-Love atau Selfish? Menemukan Batas Sehat dalam Mencintai Diri
Sendiri,” PWM Jateng, 5 Januari 2024, diakses 13 Mei 2025,
https://pwmjateng.com/self-love-atau-selfish-menemukan-batas-sehat-dalam-mencintai-diri-sendiri
[3] Erich
Fromm, Seni Mencinta, terj. Budiyanto (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2003), hlm. 55–56
[4] Wijaya,
J. W. Self-Love Dictionary: Cara Sesungguhnya Mencintai Diri Sendiri.
LAKSANA.
[5] Brain
& Behavior Research Foundation, “Self-Love and What It Means,” diakses 30
April 2025, https://bbrfoundation.org/blog/self-love-and-what-it-means
[6] “Contingent
Self-Esteem,” Wikipedia, terakhir diubah 29 April 2024, diakses 13 Mei
2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Contingent_self-esteem
[7] Syekh
Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib, terj. oleh Muhammad Nuh
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003), hlm. 85
[8] Rif'ah,
Zulfa Ni'matur. KONSEP PENDIDIKAN AKHLAK YANG TERKANDUNG DALAM KITAB
BIDA> YAT AL-HIDA> YAH KARYA IMAM AL-GHAZALI DAN RELEVANSINYA DENGAN
MATERI AKHLAK DI MADRASAH ALIYAH. Diss. IAIN PONOROGO, 2023.
[9] Anggraeni,
Lia, Ananda Nurzahra Wahidah, and Maftuh Ajmain. "MAHABBAH DALAM
PERSEPEKTIF RABI'AH AL-ADAWIYAH." JUTEQ: JURNAL TEOLOGI &
TAFSIR 2.4 (2025): 944-954.
[10] Rakhman,
M. Z. (2025). Ibn'Arabi Tentang Cinta dan Agama. Garudhawaca.ss
[11] Halaman Moeka. (2025, 1 Maret). Kesepian:
Penyakit Sosial di Era Digital. Diakses dari
https://www.halamanmoeka.com/artikel/kesepian-penyakit-sosial-di-era-digital
[12] Anjayani, D. K. (2025). Majas Metafora
Pada Album “Menari Dengan Bayangan” Karya Hindia. Jurnal Zeugma, 1(1), 102-119.
[13] Erich
Fromm, Seni Mencinta, terj. oleh Budiyanto (Jakarta: Pustaka Pelajar,
2003), hlm. 55–56
Komentar
Posting Komentar